Jumat, 02 Desember 2016

Kewajiban belajar dlm Al qur'an ( kel.3)

KEWAJIBAN BELAJAR DALAM AL-QURAN

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Qiro`atul Kutub Tafsir Tarbawi
yang diampu oleh Darul Muntaha, S.Sos., M.Pd.I




Oleh:
Toyyib Chaqul Amin
Winona Ayuni Yuhadin
Zulfa Nur Khalifah
PAI V B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan merupakan kalamullah yang mutlak kebenarannya, berlaku sepanjang  zaman dan mengandung ajaran dan petunjuk tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia dan akhirat kelak. Ajaran dan petunjuk tersebut amat dibutuhkan oleh manusia dalam mengarungi kehidupannya.
Namun demikian al-Qur’an bukanlah kitab suci yang siap pakai dalam arti berbagai konsep yang dikemukakan al-Qur’an tersebut, tidak langsung dapat dihubungkan dengan berbagai masalah yang dihadapi manusia. Ajaran al-Qur’an tampil dalam sifatnya yang global, ringkas dan general sehingga untuk dapat memehami ajaran al-Qur’an tentang berbagai masalah tersebut, mau tidak mau seseorang harus melalui jalur tafsir sebagimana yang dilakukan oleh para ulama’.

Rumusan Masalah
Bagaimana isi kandungan QS. Al-Alaq: 1-5?
Bagaimana isi kandungan QS. At-Taubah: 122?
Bagaimana isi kandungan QS. Al- Muzzammil: 20?
Bagaimana isi kandungan QS. Muhammad: 24?





BAB II
PEMBAHASAN
QS. Al-Alaq/96: 1-5
Ayat dan Terjemah
(((((((( (((((((( ((((((( ((((((( (((((( (((   (((((( (((((((((( (((( (((((( (((   (((((((( (((((((( (((((((((( (((   ((((((( (((((( (((((((((((( (((   (((((( (((((((((( ((( (((( (((((((( (((  
Artinya: “1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Mufradat (Penjelasan Kata) QS. AL-Alaq/ 96: 1-5
a. ((اقزِأ bacalah maksudnya mulailah membaca 
b. ( باسن ربّك) dengan menyebut nama Tuhanmu 
c. ((خلق Yang telah  menciptakan semua makhluk
d. ( الانسان ) jenis manusia
e. (علق ) bentuk jama dari „alaqoh artinya segumpal darah yang kental
f. (الاكزم) maha pemurah
g. ((الذي علّن yang mengajar manusia menulis
h. ((باالقلن dengan pena ; orang  pertama yang menulis dengan qalam adalah Nabi Idris a.s. i.
i. (ها لن يعلن)apa yang tidak diketahuinya yaitu sebelum Dia mengajarkan kepadanya hidayah, menulis, dan berkreasi serta hal-hal lainnya.
Penjelasan Ayat
a. Ayat Pertama ((((((((( (((((((( ((((((( ((((((( (((((()
Ayat pertama ini mengandung pesan ontologis tentang sumber ilmu pengetahuan. Pada ayat tersebut Allah Swt. menyuruh Nabi Muhamad Saw. agar membaca. Sedangkan yang di baca itu obyeknya macam-macam. Ada yang berupa Ayat-ayat Allah yang tertulis sebagaimana surat Al-„Alaq itu sendiri, dan dapat pula ayat-ayat Allah yang tidak tertulis seperti yang terdapat pada alam jagat raya dengan segala hukum kausalitas yang ada didalamnya, dan pada diri manusia. Berbagai ayat tersebut jika di baca dalam arti ditelaah, diobservasi, diidetifikasi, dikatagorisasi, dibandingkan, dianalisa dan disimpulkan dapat menghasilkan ilmu pengetahuan.
Membaca ayat-ayat Allah yang berada dalam Al-Qur‟an dapat menghasilkan ilmu agama islam seperti Fiqih, Tauhid, Akhlak, dan sebagainya. Sedangkan membaca ayat-ayat Allah yang ada dalam diri manusia dari segi fisiknya menghasilkan sains seperti ilmu kedokteran dan ilmu tentang raga, dan dari segi tingkah lakunya menghasilkan ilmu ekonomi, ilmu politik, sosiologi, antropologi, dan lain sebagainya, dan dari segi kejiwaannya menghasilkan ilmu jiwa. Dengan demikian karena obyek ontologi seluruh ilmu tersebut adalah ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya ilmu itu pada hakikatnya milik Allah, dan harus diabadikan untuk Allah. Manusia hanya menemukan dan  memanfaatkan ilmu-ilmu tersebut. Pemanfaatan ilmu-ilmu tersebut harus di tunjukan untuk mengenal, mendekatkan diri dan beribadah kepada  Allah SWT. Dengan demikian ayat petama surat Al- „Alaq ini terkait erat dengan obyek, sasaran dan tujuan pendidikan.
b. Ayat Kedua ((((((( (((((((((( (((( (((((()
Kekuasaan Allah itu telah diperlihatkan ketika memberikan kemampuan membaca kepada Nabi Muhammad Saw. sekalipun ia belum pernah belajar membaca. Dengan demikian ayat ini memberikan informasi tentang pentingnya memahami asal usul dan proses kejadian manusia dengan segenap potensi yang ada dalam dirinya.
Proses kejadian manusia telah terbukti sejalan dengan apa yang dijelaskan berdasarkan analisis ilmu pengetahuan. Namun yang terpenting bukanlah ditemukannya kesesuaian antara ajaran Al-qur‟an dengan ilmu pengetahuan, tetapi yang terpenting adalah agar timbul kesadaran pada manusia, bahwa dirinya adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT dan selanjutnya ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya kelak di akhirat. Kesadaran ini selanjutnya diharapkan dapat menimbulkan sikap merasa sama dengan manusia yang lainnya (egaliter), rendah hati, bertanggung jawab, beribadah, beramal salih.
Pemahaman yang komprhehensip tentang manusia ini disepakati oleh para ahli didik sebagai hal yang amat penting dalam rangka merumuskan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan rumusan tujuan pendidikan, materi pendidikan, dan metode pendidikan.
c. Ayat Ketiga ((((((((( (((((((( (((((((((()
Menurut Al-Misbah bahwa pengulangan kata iqra pada ayat tersebut di dasarkan pada alasan bahwa membaca itu tidak akan membekas dalam jiwa kecuali dengan di ulang-ulang dan membiasakannya. Perintah Tuhan untuk mengulang membaca berarti pula mengulangi apa yang dibaca. Dengan cara demikian bacaan tersebut menjadi milik orang yang membacanya. Dengan demikian ayat ini erat kaitannya dengan metode pendidikan, sebagaimana halnya di jumpai pada metode pada metode iqra‟ dalam proses mempelajari membaca Al-Qur‟an. Sedangkan dihubungkannya kata iqra‟ dengan sifat Tuhan yang Maha Mulia sebagaimana terlihat pada ayat tersebut diatas, mengandung arti bahwa Allah memulyakan kepada siapa saja yang mengharapkan pemberian anugrah-Nya, sehingga dengan lautan kemulyaan-Nya itu mengalirkan nikmat berupa kemampuan membaca orang tersebut. Setelah ayat pertama dan kedua memerintahkan untuk membaca dengan meningkatkan motivasinya, yakni dengan nama Allah, kini ayat ketiga memerintahkan membaca dengan menyampaikan dengan janji Allah atas manfaat membaca itu secara berulang-ulang sehingga akan mendapat karuniaNya.
d. Ayat Keempat dan Kelima (   ((((((( (((((( (((((((((((( (((   (((((( (((((((((( ((( (((( (((((((( )
Sedangkan dalam Tafsir Al-misbah ayat tersebut menjelaskan bahwa Dia-lah Allah yang menjadikan qalam sebagai media yang digunakan manusia untuk memehami sesuatu, sebagimana mereka memahaminya melalui ucapan. Lebih lanjut lagi Al-misbah mengatakan bahwa Al-qalam itu adalah alat yang keras dan tidak mengandung unsur kehidupan, dan tidak pula mengandung unsur pemahaman. Namun digunakannya Al-qalam itu untuk memahami sesuatu bagi Allah bukaknlah masalah yang sulit. Dan dengan bantuan Al-qalam ini pula manusia dapat memahami masalah yang sulit. Allah memiliki kekuasan untuk menjadikan seseorang sebagai pembaca yang baik, penghubung yang memiliki pengetahuan sehingga ia menjadi manusia yang sempurna. Pada perkembangan selanjutnya, pengertian Al-qalam ini tidak terbatas hanya pada alat tulis yang bisa digunakan oleh masyarakat tradisioanal di pesantren-pesantren. Namun secara subtansial Al-qalam ini dapat menampung seluruh pengertian yang berkaitan dengan segala sesuatu sebagai alam penyimpan, merekam, dan sebagainya.
Nilai Tarbawi QS. Al-Alaq Ayat 1-5
Ayat  pertama ini berisi tentang perintah untuk membaca. Dan membaca adalah sebagian dari belajar.
Ayat kedua ini berisi penjelasan tentang asal-usul kejadian manusia. Agar manusia memiliki kesadaran dan tanggung jawab sebagai makhluk yang harus beribadah kepada Allah, dan mempertanggungjawabkan perbuatannya di akhirat kelak.
Ayat yang ketiga ini merupakan perintah membaca untuk yang kedua kalinya. Penjelasan ini erat kaitannya dengan perintah untuk mengembangakn ilmu pengetahuan secara konprehensip atau secara menyeluruh.
Dan dua ayat terakir ini berisi penjelasan tentang perlunya alat dalam melakukan kegiatan, seperti halnya qalam yang diperlukan bagi upaya pengembangan dan pemeliharaan ilmu pengetahuan.
QS. At-Taubah/9: 122
Ayat dan Terjemah
( ((((( ((((( ((((((((((((((( (((((((((((( (((((((( ( (((((((( (((((( ((( ((((( (((((((( ((((((((( (((((((((( (((((((((((((((( ((( ((((((((( (((((((((((((( (((((((((( ((((( (((((((((( (((((((((( (((((((((( ((((((((((( (((((  
Artinya: “tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Penjelasan Ayat
Ayat ini menerangkan kelengkapan dari hukum-hukum uang menyangkut perjuangan. Yakni, hukum mencari ilmu dan mendalami agama. Artinya, bahwa pendalaman ilmu agama itu merupakan cara berjuang dan penyampaian bukti-bukti, dan juga merupakan rukun terpenting dalam menyeru kepada aman dan menegakkan sendi-sendi Islam. Karena perjuangan yang menggunakan pedang itu sendiri tidak disyari`atkan kecuali untuk jadi benteng dan pagar dari dakwah tersebut, agar jangan dipermainkan oleh tangan-tangan cerobh dari orang-orang kafor dan munafik.
((((( ((((( ((((((((((((((( (((((((((((( ((((((((
Tidaklah patut bagi orang-orang mukmin, dan juga tidak dituntut supaya mereka seluruhnya berangkat menyertai setiap utusan perang yang keluar menuju medan perjuangan. Karena, perang itu sebenarnya Fardu Kifayah bukan Fardu `Ain. Perang barulah menjadi wajib, apabila Rasul sendiri keluar dan mengerahkan kaum mukminin menuju medan perang.
Kewajiban Mendalami Agama dan Kesiapan Untuk Mengajarkannya.
(((((((( (((((( ((( ((((( (((((((( ((((((((( (((((((((( (((((((((((((((( ((( ((((((((( (((((((((((((( (((((((((( ((((( (((((((((( (((((((((( (((((((((( (((((((((((
Mengapa tidak segolongan saja, atau sekelompok kecil saja yang berangkat ke medan tempur dari tiap-tiap golongan besar kaum Mu’minin seperti penduduk suatu negeri atau suatu suku, dengan maksud supaya orang-orang mu’min seluruhnya dapat mendalami agama mereka. Yaitu, dengan cara orang yang tidak berangkat dan tinggal di kota (Madinah), berusaha keras untuk memahami agama, yang Wahyu-Nya turun kepada Rosulullah saw. Hari demi hari, berupa ayat-ayat, maupun yang berupa hadits-hadits dari Nabi SAW. Yang mnerangkan Ayat-ayat tersebut, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Dengan demikian, maka diketahuilah hukum dengan hikmahnya, dan menjadi jelas hal yang masih muj’mal dengan adanya perbuatan Nabi tersebut. Disamping itu orang yang mendalami agama memberi peringatan kepada kaumnya yang pergi perang menghadapi musuh, apabila mereka telah kembali kedalam kota.
Artinya, agar tujuan utama dari orang-orang yang mendalami agama itu karena ingin membimbing kaumnya, mengajari mereka dan memberi peringatan kepada mereka tentang akibat kebodohan dan tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui, dengan harapan supaya mereka takut kepada Allah dan berhati-hati terhadap akibat kemaksiatan, disamping agar seluruh kaum Mu’minin mengetahui agama mereka, mampu menyebarkan da’wahnyadan membelanya, serta menerangkan rahasia-rahasiaNya kepada seluruh umat manusia. Jadi, bukan bertujuan supaya memperoleh kepemimpinan dan kedudukan yang tinggi serta mengungguli kebanyakan orang-orang lain, atau atau bertujuan memperoleh harta dan meniru orang zalim dan para penindas dalam berpakaian, berkendaraan maupun dalam persaingan diantara sesame mereka.
Ayat tersebut merupakan isyarat tentang kewajibannya dalam pendalaman agama dan bersedia mengajarkannya ditempat-tempat pemukiman serta memahamkan orang-orang lain kepada agama, sebanyak yang dapat memperbaiki keadaan mereka. Sehingga, mereka tak bodoh lagi tentang hukum-hukum agama secara umum yang wajib diketahui oleh setiap Mu’minin.
Orang-orang yang beruntung, dirinya memperoleh kesempatan untuk mendalami agama dengan maksud seperti ini, mereka mendapat kedudukan yang tinggi disisi Allah swt, dan tidak kalah tingginya dari kalangan pejuang yang mengorbankan harta dan jiwa dalam meninggikan kalimat Allah SWT. Membela agama dan ajaran-Nya. Bahkan , mereka boleh jadi lebih utama dari para pejuang pada selain situasi ketika mempertahankan agma menjadi Wajib’ain bagi setiap orang.

Nilai Tarbawi QS. At-Taubah Ayat 122
Kewajiban mendalami agama dan kesiapan untuk mengajarkannya. Maksudnya, tidaklah patut bagi orang-orang mukmin, dan juga tidak dituntut supaya mereka seluruhnya berangkat menyertai setiap utusan perang yang keluar menuju medan perjuangan. Karena menuntut ilmu itu merupakan suatu kewajiban sehinnga menuntut ilmu mempunyai derajat yang sangat tinggi. sehingga di sejajarkan dengan orang yang perang dijalan Allah.
Hasil dari pembelajaran itu tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi diharapkan mampu untuk menyampaikan terhadap orang lain. 

QS. Al-Muzammil Ayat 20
Ayat dan Terjemah
( (((( (((((( (((((((( (((((( ((((((( (((((((( ((( (((((((( (((((((( ((((((((((( ((((((((((( (((((((((((( ((((( ((((((((( (((((( ( (((((( ((((((((( (((((((( (((((((((((( ( (((((( ((( ((( ((((((((( ((((((( (((((((((( ( ((((((((((((( ((( (((((((( (((( ((((((((((((( ( (((((( ((( ((((((((( (((((( (((((((( ( (((((((((((( ((((((((((( ((( (((((((( ((((((((((( ((( (((((( (((( ( (((((((((((( (((((((((((( ((( ((((((( (((( ( ((((((((((((( ((( (((((((( (((((( ( (((((((((((( ((((((((((( (((((((((( ((((((((((( ((((((((((((( (((( ((((((( ((((((( ( ((((( (((((((((((( (((((((((( ((((( (((((( ((((((((( ((((( (((( (((( ((((((( (((((((((( ((((((( ( ((((((((((((((((( (((( ( (((( (((( ((((((( ((((((( ((((  
Artinya: “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai Balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Penjelasan Ayat
Setelah Allah membuka surat ini dengan keterangan mengenai orang-orang yang berbahagia dan menjelaskan muamalah mereka dengan Tuhan mereka, dan muamalah mereka dengan makhluk, kemudian mengancam orang-orang yang celaka dengan berbagai macam adzab di akhirat dan memperingatkan mereka dengan azab dunia, kemudian melukiskan kengerian pada hari kiamat, Allah menutup surat ini dengan peringatan-peringatan yang meliputi macam-macam petunjuk dan bimbingan, bagi siapa yang hendak menempuhnya. Kemudian Allah memberitahukan kepada Rasul-Nya apa yang dilakukan oleh Rasul itu dan oleh orang-orang mukmin untuk beribadah pada waktu malam, dua pertiga, setengah atau sepertiga malam. Kemudian Allah memberi keringanan kepada mereka dalam hal itu, karena beberapa uzur yang meliputi mereka. Baik uzur sakit, bepergian untuk berdagang dll. Maupun berjihad menghadapi musuh. Hendaklah mereka tetapi mengerjakan shalat sesuai dengan kesanggupan mereka, menunaikan zakat harta benda mereka dan memohon ampunan kepada Allah dalam segala keadaan mereka, karena Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Kasih Sayang dan Kemudahan-kemudahan Allah
Salah satu bentuk kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya adalah dengan memberikan kemudahan-kemudahan. Termasuk diantaranya keringanan-keringanan yang kita dapatkan, atau sebagian kita kenal dengan rukhshah. Demikian juga tentang perintah Shalat Malam ini. Dari yang semula wajib, kemudian dengan turunya ayat ke duapuluh ini menjadi sunnah.
Karena Allah Maha Mengetahui kondisi hamba-hamba-Nya. Akan ada yang sanggup melakukannya semalam, dan itupun tak akan bisa dilakukan terus menerus karena badan kita memliki hak untuk diistirahatkan. Ada juga yang bisa melakukannya sedikit bahkan ada yang kadang-kadang saja melakukan Shalat Malam. Karena ada yang tua dan muda, ada yang sehat dan yang sakit. Ada yang sibuk berperang, memiliki karakter pekerjaan yang melelahkan ada yang sedang stabil imannya dan ada yang labil dan seterusnya.
Maka kemudian Allah menjadikan Shalat Malam hukumnya sunnah. Tapi tetap berfungsi sebagai pembekalan secara efektif bagi penerus risalah Nabi Muhammad Saw sekaligus sebagai jalan untuk meraih kemuliaan di sisi Allah. Seperti dalam firman-Nya. “Dan pada sebagian malam hari Shalat Tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS.17: 79)
Sungguh luas kasih sayang-Nya. Allah memberikan kesempatan bagi hamba-Nya untuk berlomba meraih kemuliaan bagi siapa saja yang  mau berusaha meraihnya. Coba kita renungkan pesan Ibnu Athaillah as-Sakandary, “Allah sengaja menetapkan waktu–waktu tertentu untuk beribadah agar engaku tidak sampai tertinggal karena menunda mengerjakannya. Dan Allah memberi keleluasaan waktu bagimu agar tetap ada kesempatan untuk memilih” 
QS. Muhammad Ayat 24
Ayat dan Terjemah
(((((( ((((((((((((( ((((((((((((( (((( (((((( ((((((( ((((((((((((( ((((  
Artinya: “Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”
Penjelasan Ayat
((((((((((((( (((((((((((( - Yatadabbarunal Qur`an : mereka memeriksa nasehat-nasehat dan larangan-larangan yang terdapat dalam Al-Quran, sehingga mereka berhenti dari melakukan hal-hal yang menyebabkan kebinasaan.
Apakah orang-orang munafik ini tidak memperhatikan nasihat Allah yang Dia nasihatkan pada ayat-ayat kitab-Nya dan apakah mereka tidak memikirkan tentang Hujjah-Hujjah Allah yang telah Dia terangkan dalam kitab-Nya, sehingga mereka mengetahui kekeliruan yang mereka pegangi, atau mereka benar-benar telah ditutup hatinya oleh Allah sehingga mereka tidak dapat memikirkan lagi pelajaran-pelajaran maupun nasihat-nasihat yang telah Dia turunkan dalam kitab-Nya.
Setelah Allah Swt. menyebutkan bahwa orang-orang munafik itu dijauhkan oleh Allah dari segala kebaikan. Yakni mereka dibuat tuli sehingga tidak dapat mengambil manfaat dari apa yang mereka dengar dan dibuat buta penglihatan mereka sehingga tidak dapat mengambil manfaat dari apa yang mereka lihat, maka Allah menerangkan pula bahwa sikap mereka berkisar antara dua hal. Mereka tidak memikirkan Al-Quran apabila Al-Quran itu sampai kepada hati mereka, atau mereka memikirkannya tetapi makna-maknanya itu tidak masuk ke dalam hati mereka, karena hati mereka memang tertutup.
Kesimpulannya, bahwa mereka berada diantara dua keadaan yang kedua-duanya buruk, memuat kehancuran dan menjerumuskan ke neraka. Yaitu mereka tidak memikirkan lagi dan tidak memperhatikan, bahkan telah tidak punya lagi, sehingga tidak dapat memahami sesuatupun.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tingginya nilai membaca, menulis dan berilmu pengetahuan Manusia telah diperintahkan untuk membaca guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena “iqra`” haruslah dengan “bismi rabbika”, yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah, yang merupakan asas Aqidah Islam. Untuk tetap berdasarkan kepada iman kepada Allah maka harus lah mendalami ilmu agama.
Tujuan utama dari orang-orang yang mendalami agama itu karena ingin membimbing kaumnya, mengajari mereka dan memberi peringatan kepada mereka tentang akibat kebodohan dan tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui, dengan harapan supaya mereka takut kepada Alloh SWT dan berhati-hati terhadap akibat kemaksiatan, disamping agar seluruh kaum mukminin mengetahui agama mereka, mampu menyebarkan pada seluruh umat manusia.
Pendalaman ilmu agama itu merupakan cara berjuang dengan menggunakan hujjah dan penyampaian bukti-bukti dan juga merupakan rukun terpenting dalam menyeru kepada iman dan menegakan sendi-sendi Islam. Karena perjuangan yang menggunakan pedang itu sendiri tidak di syari’atkan kecuali untuk jadi benteng dan pagar dari da’wah tersebut agar jangan dipermainkan oleh tangan-tangan ceroboh dari orang-orang kafir dan munafik.






DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar, Bahrun.  Tafsir Jalalain berikut Asbabun Nujul, jilid 2, Terj. dari Tafsir Jalalain oleh Imam Jalaludin As-Suyuti dan Imam Jalaludin AL- Mahalli Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009, cet. Ke-6
Ahmad Mustafa Al-Maragi. 1992. Terjemah Tasir Al-Maragi, Semarang: CV Toha Putra
Departemen Agama RI,  Al-Qur’an dan terjemahnya, Jakarta: Depag RI, 1998
Nata,  Abudin. Tafsir Ayat-ayt Pendidikan(Tafsir Al-ayat Al-Tarbawi),  Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2010 Cet. ke-4
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah Vol 15,  Jakarta: Lentera Hati, 2002

Tujuan pendidikan dalam al - qur'an( kel. 2)

TUJUAN  PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Qira’atul Kutub Tafsir Tarbawi yang diampu oleh Darul Muntaha, S.Sos.I.,M.Pd.I

Disusun oleh:
Ulfiana Fatmawati
Siti Robi’ah
M. Imam Multazam

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL QURAN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
TAHUN 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat inayah serta hidayah-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Rosululloh  Sallallahu ‘alaihi wasallam  semoga kita mendapatkan syafaat di hari akhir nanti. Amin.
Makalah ini di buat sebagai tugas Mata Kuliah Qiroatul Kutub Tafsir Tarbawi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Sains Al-Qur’an Jawa Tengah di Wonosobo.
Terima kasih kami ucapkan kepada pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Dan terkhusus untuk teman-teman ku yang selalu memberiku motivasi dalam hal apapun. Saya sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh sekali dari sempurna. Karenanya, kritik dan saran anda sangat saya butuhkan demi memperbaiki di pembuatan makalah mendatang.
Saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi diri saya sendiri dan bagi pembaca pada umumnya.

Wonosobo, 13 Oktober 2016

    Penulis



BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an adalah kalamulloh yang diturunkan oleh malaikat jibril kepada nabi Muhamad Shollallahu Alaihi wa Sallam dengan bahasa Arab atau bahasa Al-Qur’an yang membacanya termasuk nilai pahala. Perinsip pendidikan dalam Al-Qur’an sudah digambarkan oleh ruhud dakwah nabi yang meliputi Mahabbah, Ihlas, di dalam Al-Qur’anpun banyak ayat yang menerangkan tujuan pendidikan seperti halnya surat At-taubah ayat 122, Al-Nahl ayat 90-91, Saba ayat 28, surat Adzariyat ayat 56 dan 58 dan surat Shaad ayat 29 itu semua adalah termasuk bagian terkecil dalam Al-Qur’an, karena masih banyak lagi ayat yang menerangkan tujuan pendidikan. Dengan memegang teguh terhadap tiga perinsip ruhud dahwah nabi maka akan sampai pada tujuan pendidikan yang sesusai dengan Al-Quran.  

Rumusan Masalah
Bagaimana tujuan pendidikan dari Qs. At-Taubah ayat 112?
Bagaimana tujuan pendidikan dari Qs. An-Nahl ayat 90 dan 91?
Bagaimana tujuan pendidikan dari Qs. Saba ayat 28?
Bagaimana tujuan pendidikan dari Qs. Adz-Zariyat ayat 56 dan 58
Bagaimana tujuan pendidikan dari Qs. Shaad ayat 29?







BAB 11
PEMBAHASAN
Surat At-Taubah
Ayat dan Terjemah
(((((((((((((( (((((((((((((( (((((((((((((( (((((((((((((( ((((((((((((( ((((((((((((( ((((((((((( ((((((((((((((( ((((((((((((( (((( ((((((((((( (((((((((((((((( ((((((((( (((( ( ((((((((( ((((((((((((((( (((((   
112. mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat[662], yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.
Penjelasan Ayat
Ayat ini menggambarkan sifat orang muslim yang suka bai’at/ jual beli itu. Mereka adalah manusia-manusia istimewa. Ada sifat yang berkaitan dengan diri Mereka secara perorangan ketika berhadapan dengan Allah swt, ada juga sifat yang melukiskan perasaan jiwa maupun kegiatan anggota badan  mereka. Adalagi sifat dan sikap mereka yang berkaitan dengan janji setia itu dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka itu adalah para yang bertaubat, baik karena dosa yang jelas yang telah mereka lakukan maupun hanya karena kekhawatiran adanya dosa juga, para pengabdi, yang melakukan ibadah dngan sungguh-sungguh dan bersinambung, para pemuji (Allah), yang mengakui anugrah-Nya dan mensyukuri, para pelawat yang melakukan perjalanan di bumi, baik untuk berjihat menuntut ilmu maupun untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam raya peruku’, para pesujud, yakni yang melakukan shalat yang kegiatan utamanya adlah ruku’ dan sujud, atau mereka yang tunduk dan patuh kepada Allah swt, para penyuruh ma’ruf, yakni kegiatan yang diakui kebaikannya oleh agama dan adat istiadat masyarakat, dan para pencegah para pemelihara, yakni pelaksana dengan baik dan tekun hokum-hukum Allah, adapun hokum dan ketetapan-Nya. Dan jika demikian, gembirakanlah orang-orang mukmin yang menyandang sifat-sifat ini.
Anda lihat ayat di atas menyebutkan taubat sebagai sifat pertama yang disandang oleh para pejuang itu. Ini karena memang jalan menuju Allah harus dimulai dengan membersihkan diri dari segala noda, sedang hal ini tidak bisa dilakukan tanpa taubat.
Setelah menyebut taubat, disusul dengan ibadah dalam pengertian umum., dan karena ibadah dan keberagamaan dibuktikan antara lain dengan pengakuan, maka yang disebut ibadah adalah pengakuan yang berupa pujian. Pujian harus bersumber dari hati dan kenyataan yang harus disadari, maka yang disebut setelahnya adalah perjalanan di muka bumi dalam rangka melihat kenyataan serta melihat betapa banyak nikmat Allah yang harus diakui dan dipuji, dan ini pada akhirnya akan mengantar seseorang ruku’ dan sujud shalat, patuh lagi tunduk kepada Allah swt.  Karena kepatuhan harus dilakuakan oleh semua makhluk bukan terbatas pada diri seseorang, maka sifat berikutnya adalah upaya mengukuhkan kebaikan dan melurskan kesalahan dengan memerintah memerintah yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Dan jika ini semua dilakuakan akan mengantarkan seseorang memelihara semua hokum dan ketentuan Allah.
Thabathaba’I berpendapatlain. Menyangkut keserasian penyebutan sifat-sifat di atas. At-ta’ibun adalah yang kembali menuju Allah. Yang mengabdi padaNya. Sehingga mereka menjadi pengabdi . pengabdi itu bermula dengan lidahnya, sehimgga mereka menjadi pemuji, juga dengan kakinya sehingga menjadi para pelawat. Dari satu tempat ke tempat yang lain. Serta beribadah dengan badannya, ruku’ dan sujud sehingga menjadi para peruku’ dan pensujud. Itulah keadaan mereka jika ditinjau dari kesendirian mereka. Tetapi jika ditinjau dari segi kebersamaan maka mereka menjadipenyuruh amar ma’ruf nahimungkar.selanjutnya naik dalam keadaan sendiri atau bersama, mereka selalu melaksanakan dan memelihara hukum-hukum Allah.
Nilai tarbawi surat At Taubah ayat 112
Ayat ini menyebutkan sifat orang-orang mukmin yang pengorbanan jiwa dan harta benda mereka diterima Allah mereka mempunyai sifat yang baik dan pekerti yang agung. Yaitu:
(((((((((((((
Orang-orang yang bertaubat. (At-Taubat: 112)
Yakni bertaubat darai semua dosa dan meninggalkan semua perbuatan yang keji.
(((((((((((((
Orang-orang yang ahli ibadah. (At-Taubat: 112)
Mereka menegakkan ibadahnya kepada Tuhan mereka dan memeliharanya dengan baik, baik ibadah yang berkaitan dengan ucapan maupun pekerjaan. Secara khusus ibadah lisan ialah membaca hamdalah (pujian) kepada Allah.
Karena itu firman selanjutnya disebutkan:
((((((((((((((
Orang-orang yang memuji Allah. (At-Taubat: 112)
Diantara amal yang paling utama ialah berpuasa, yaitu meninggalkan kelezatan makan dan minum serta bersetubuh.  Pengertian inilah yang dimaksud dengan istilah siyahah dalam ayat ini yaitu firmannya:
(((((((((((((
Orang-orang yang berpuasa. (At-Taubat: 112)
Sama halnya dengan sifat yang dimiliki oleh istri-istri Nabi Muhammad. Yang disebut dalam firmannya
حا ت(((((((((
Yakni wanita-wanita yang berpuasa. (At-Taubat: 112)
Mengenai rukuk dan sujud, keduanya merupakan bagian dari shalat dan makna yang dimaksud adalah salat itu sendiri. Seperti yang disebutkan oleh firmannya.
(((((((((((( (((((((((((((
Yang rukuk dan yang sujud. (At-Taubat: 112)
Sekalipun demikian mereka memberikan manfaat kepada makhluk Allah membimbing, memerintahkan untuk taat kepada Allah mereka juga mengetahui semua hal yang harus dikerjakan dan dijauhi yakni selalu memelihara hokum-hukum Allah. Dengan demikian mereka menegakkan ibadah kepada Allah dan memberikan nasihat kepada makhluk.
((((((((( (((((((((((((((
Dan gembirakanlah orang-orang yang mukmin itu: (At-Taubat: 112)
Dikatakan demikian karena iman mencangkup semua sifat tersebut, dan kebahagiaan yang paling puncak ialah bagi orang yang memiliki sifat-sifat itu.

Tafsir Qs. An-Nahl Ayat 90 dan 91
Ayat dan Terjemahnya
إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ٩٠ 
وَأَوۡفُواْ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ إِذَا عَٰهَدتُّمۡ وَلَا تَنقُضُواْ ٱلۡأَيۡمَٰنَ بَعۡدَ تَوۡكِيدِهَا وَقَدۡ جَعَلۡتُمُ ٱللَّهَ عَلَيۡكُمۡ كَفِيلًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ ٩١ 
90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran
91. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
Penjelasan Ayat
Penjelasan Qs. An-Nahl ayat 90
Ayat ini dinilai oleh para pakar sebagai ayat yang paling sempurna penjelasan dalam aspek kebaikan dan keburukan. Di dalam ayat ini allah menekankan pesan-pesan bahwa sesungguhnya Allah secara terus menerusmemerintahkan siapapunn diantara hamba-hambaNya untuk berlaku adil dalam sikap, ucapan, dan tindakan, walau terhadapdiri sendiri dan menganjurkan berbuat ihsan, yakni yang lebih utama dari keadilan, dan juga pemberian yang dibutuhkan dan sepanjang kemampuan dengan tulus kepada kerabat, dan Allah melarang segala macam dosa, lebih-lebih perbuatan keji yang amat tercela oleh agam dan akal sehatseperti zina, homoseksual, dan lain-lain. Demikian juga kemungkaran yaitu hal-hal yang bertentangn denga adat istiadat yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan melarang juga penganiayaan, yaitu segala sesuatu yang melampaui batas kewajaran. Dengan perintah dan larangan ini Allahmemberi pengajaran dan bimbingan kepada kamu semua, menyangkut segala aspek kebajikan agar kamu dapat selalu ingat dan mengambil pelajaran yang berharga.
Penjalasan Qs. An-Nahl ayat 91
Ayat ini memerintahkan untuk selalu menepati perjanjian yang telah kamu ikrarkandengan Allah apabila kamu membatalkan sumpah-sumpah sesudah kamu meneguhkannya, yaitu perjanjian-perjanjian yang kamu akui di hadapan Allah swt. demikian juga sumpah-sumpah yang menyebut namanya . bagaimana kamu tidak harus menepatinya sedangkan kamu telah menjadikan Allah sebagai saksi dan pengawas atas diri kamu terhadap sumpah-sumpah dan jani-janji itu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat, baik niat, ucapan,maupun tindakan, dan baik janji, sumpah dan sebagainya baik yang nyata maupun yang rahasia.
Tafsir Mufradat 
No
Mufradat
Terjemah

1
العدل
Adil, penempatan sesuatu pada tempat yang semestinya

2
الإحسان
Membalas kebaikan dengan yang lebih banyak dari padanya, dan membalas kejahatan dengan memberi maaf

3
إيتاء
Pemberian, memberikan kepada kerabat tentang hak mereka yaitu silaturrahim dan kebajikan

4
الفخشاء
Perkataan dan perbuatan yang buruk

5
المنكر
Apa yang diingkari oleh akal

6
البغى
Penganiayaan, melakukan kezaliman dan permusuhan

7
لعلكم تذكّرون
Agar kamu dapat selalu ingat

8
تنقذوا
Membatalkan, melakukan sesuatu yang bertentangan dengan janji

9
بعدتوكيدها
Sesudah kamu meneguhkannya, menjadikan Allah sebagai saksi dan pengawas

Nilai Tarbawi Qs. An-Nahl ayat 90 dan 91
Menyuruh manusia untuk berlaku adil
Menyuruh manusia agar berbuat ihsan
Menyuruh manusia untuk melakukan akhlak mulia dan tidak melakukan akhlak tercela
Menjatuhkan hukuman sesuai dengan kesalahannya
Allah memerintahkan manusia untuk menepati janji
Qs. Saba Ayat 28
Ayat dan Terjemah
(((((( ((((((((((((( (((( (((((((( ((((((((( (((((((( (((((((((( ((((((((( (((((((( (((((((( (( ((((((((((( ((((  
28. dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.
Penjelasan Ayat
Setelah membuktikan keesaan Allah dan menampik sembahan-sembahan dan kepercayaan kaum musyrikin, ayat diatas beralih guna membicarakan kenabian nabi Muhammad SAW dengan menyatakan bahwa Allah yang maha Esa dan kuasa itu, telah mengutus Rasulnya ddengan membawa bukti kebenaran yaitu Al-Qur’an. Ayat diatas tidak lagi menggnakan bentuk perintah untuk menyampaikan fungdi nabi Muhammad SAW. Sebagaimana bentuk periintah pada ayat-ayat yang lalu. Ini agaknya untuk mengingatkan beliau betapa besar anugerahnya sekaligud mengingatkan kepada seluruh manusia betapa tinggi kedudukan Rasul SAW di sisi Allah SWT.
Ayat ini dipahami oleh Taba Taba’i sebagai ayat yang mengandung argumnetasi tentang keesaan Allah SWT. Ulama ini menulis bahwa risalah atau pengutusan para nabi merupakan salah satu keniscayaan keesaan Allah. Karena Tuhan selalu memperhatikan dan mengurus hamba-hambanya serta mengtur mereka menuju kebahagiaan. Keutamaan rislah Nabi Muhammad SAW dimana beliau merupakan utusan Allah bukan utusan selainnya. Hal ini membuktikan bahwa Tuhan tidak lain kecuali Allah. Seandainya ada Tuhan lain tentu yang lain itu akan mnegutus utusannya kepada sebagian masyarakat umat manusia. Dalam konteks ini sayyidina Ali R.a. berkata: “seandainya Tuhanmu memiliki sekutu pastilah Rasul” sekutunya “itu datang juga menemui anda”. Selanjutnya Taba’ Taba’i memahami firmanNya: tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui dalan arti kebanyakan manusia tidak mengetahui bahwa keterbatasan sumber pengutusan Rasul-rasul hanya dari Allah yang maha Esa, merupakan bukti keterbatasan ketuhanan hanya pada Allah SWT semata-mata.
Nilai tarbawi
Ayat ini membuktikan bahwa Al-Quran adalah firman Allah
Ayat ini menjelaskan tentang ketauhdan dan keesaan Allah
Rasulullah SAW diutus oleh Allah sebagai Uswatun Khasanah

Surat Adz-Dzariyat ayat 56
Ayat dan Terjemah

وما خلقت الجنّ والإ ليعبدون <56>
Artinya: “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepadaku
Penjelasan Ayat
Menggapa manusia harus bangkit berlari dan bersegera menuju Allah. Ayat diatas menyatakan dan aka tidak menciptakan jin dan manusia untuk satu manfaat yang kembali kepda diriku. Aku tidak menciptakan mereka melainkan agar tujuan atau kesudahan aktifitas mereka adalah beribadah kepdaku.
Tafsir perkata.
Kata ليعبدون   li ya’budun bukan berarti agar supaya mereka beribadah atau agar Allah disembah. Huruf lam di sini sama dengan huruf lam pada firmanya  فالتققطه ءال فرعون لهم عدوّا وخرنا  (QS. Al-Qashoh ayat 8). Bila huruf  lam pada kata liyakuna dipahami dalam arti agar supaya maka ayat diatas berarti: maka dipungutlah dia oleh keluarga firaun agar supaya dia musa yang dipungut itu menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Memeng tidak mungkin huruf lam itu berarti agar supaya karena tentu tidak ada yang mengambil dan memelihara musuhnya. Tujuan firaun ketika usul istrinya agar mengambil musa adalah agar menjadi penyejuk mata mereka, serta untuk memanfaatkan dan menjadikanya sebagai anak
Nilai Tarbawi Pada Qs.Adz-Zariyat ayat 56
Tujuan pendidikan pada ayat diatas adalah supaya manusia beribadah kepada tuhanya ataupu taat kepada Allah sedangkan ibadah dibagi menjadi 2 macam:
Ibadah mahdhoh atau ibadah murni
Ibadah mahdhoh adalah ibadah yang telah ditentukan oleh allah , bentuk, kadar, atau waktunya, seperti sholat, zakat, dan haji.

Ibadah ghoiru mahdhoh atau ibadah tidak murni
Ibadah ghoiru mahdoh adalah segala aktifitas lahir batin dan batin manusia yang dimaksudkanya untuk mendekatkan diri kepada Allah
Dari cabang ilmu seperti ilmu sholat, zakat, haji dan ilmu pengetahuan lainya itu semuanya guna takorrub illallah atau mendekat diri kepada Allah atau untuk beribadah kepada Allah.
Surat Adz-Dzariyat ayat 57-58
Ayat dan Terjemah
ما أريد منهم من رزق وما أريد أن يطعمون < 57 > ٳنّ اللّه هو الرّزّاق ذوالقوّة المتين < 58 >
Artinya: “aku tidak menghendaki dari mereka sedikit rezeki pun dan aku tidak menghendaki mereka memberi aku makan. Sesungguhnya Allah, dialalah maha pemberi rezeki, lagi pemilik kekuatan yang sangat kokoh”
Penjelasan Ayat
Ayat yang lalu menekankan bahwa tujuan penciptaan adalah beribadah kepada allah semata-mata, tidak kepada siapa pun dan apapun selainya. Ini mengundang penekanan tentang perananya sebagai sumber pemberi rezeki pemilik kekuatan yang sangat kokoh. Ayat –ayat diatas menyatakan: aku tidak menghendaki kapan dan dalam situasi dalam keadaan apapun dari mereka sedikit rezeki rezeki pun karena aku tidak memmbutuhkan sesuatu dan aku tidak meghendaki mereka memberi aku makan seperti berhala-berhala mereka sembah, sesungguhnya Allah, dialah saja maha pemberi rezeki yakni berulang-ulang lagi banyak kali memberi rezeki setiap hidup lagi pemilik kekuatan yang sangat kokoh.
Penjelasan Kata
Kata  يطعمون terambil dari kata  أطعم  yakni memberi makan. Penyebutan kata tersebut setelah sebelumnya menyebut rezeki, adalah penyebutan khusus setelah menyebut yang umum. Hal ini agaknya di samping untuk mengecam dan merendahkan berhala berhala-berhala yang mereka sembah dengan memberikan sesaji, juka karena kebutuhan pangan merupakan kebutuhan utama makhluk
Ada juga yang memahami firmanya: aku tidak menghendaki dari mereka sedikitpun untuk mereka berikan kepada ciptaan-ciptaan-ku, karena semua telah kusiapkan rezekinya dann aku tidak menghendaki mereka memberi aku makan karena aku tidak membutuhkan pangan bahkan tidak butuh suatu apapun.
Nilai tarbawi pada suratn Adz-Dzariyat ayat 57-58
Ayat diatas menunjukan bahwa yang namanya rizki sudah diatur oleh Allah dan manusia sudah mendapatkan bagianya masing masing, dan Allah pun tidak mengharapkan rizki yang diberikan kepadamu untuk di dipersembahkan kepada Allah karena Allah yang menciptakan rizki tersebut. Nah dari sinilah kita bisa paham, bahwasanya kita harus bersukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepada kita.
Surat Shod ayat 29
Ayat dan Terjemah
كتاب انزلناه ٳليك مبارك ليده وليتذكر أولوا الألباب < 29 >
Artinya: “sebuak kitab yang kami turunkan kepadamu, penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai fikiran yang cerah mendapat pelajaran”
Penjelasan Ayat
Penjelasan tentang hakikat diatas diuraikan Allah melalui para nabi dan kitab-kitabnya antara lain yang diturunkan kepada nabi Muhamad SAW. Karena itu ayat diatas menegaskan bahwa: Al-Qur’an yang engkau sampaikan wahai Nabi Muhamad adalah sebuahh kitab yang kami turunkan kepadamu. Ia penuh dengan berkah supaya mereka yakin umat manusia seluruhnya-khususnya  yang tidak percaya memperhatikan ayat-ayatnya.
Tafsir Perkata
Kata الالباب adalah bentuk jamak dari  لبّ  yaitu sari pati sesuatu. Kacang misalnya memeliki kulit yang memiliki kulit yang menutupi isinya. Isi kacang dinamai lubb. Ulul albab adalah orang—orang yang memiliki akal yang murni yang diselubu ngi oleh “kulit”, yakni kabut ide yang melahirkan kerancuwan dalam berpikir. Yang merenungkan ayat-ayat Allah dan melaksanakanya diharapkan dapat terhindar dari siksa, sedang yang menolaknya pasti ada kerancuwan dalam cara berpikir.
Kata  مبارك  terambil dari kata  بركه  barkah yang bermakna sesuatu yang mantap juga berarti kebajikan yang melimpah dan beranika ragam serta bersinambung. Kolam dinamai birkah, karena air yang ditampung dalam kolam itu menetap mantap di dalamnya, tidak tercecer kemana-mana. Keberkahan ilahi sering kali tidak diduga atau dirasakan secara material dan tidak pula dibatasi atau bahkan diukur. Dari sini segala penambahan yang tidak terukur oleh indra dinamai berkah.
Nilai Tarbawi Surat Shod 29
Ayat diatas menunjukan bahwa seseorang guru ketika mengajar anak perserta didiknya dengan merujuk kepada nilai afekti, pesikomotorik dan kognitif. Ketika seorang guru menujuk tiga nilai tersebut akan membentuk peserta didik yang ulul albab dan perlu diketahui juga bahwasanya itu semua harus di topang dengan sepiritual supaya mendapatkan ilmu yang berkah.

















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tujuan pendidikan islam yang tertuang dalm Al-Quran adalah supaya manusia Beribadah Kepada tuhanya, dengan di bantu dengan tujuan tujuan yang lainnya seperti halnya tujan dalam sekolah vormal maupun non vormal, tujuan dalam pembelajaran supaya anak-anak menerima ilmu dari guru dengan mudah dan tujuan pendidikan yang seperti inilah yang kita cari, karena dari sinilah bisa mencerdaskan peserta didik pada khususnya dan masyarakat sebagai umumnya. Dari sinilah akan tercapai tujuan pendidikan yang kita harapkan.




















DAFTAR PUSTAKA

Quraish Shihab, M. 2007. Tafsir Al-Misbah. Tangerang: Lentera Hati
Showi Maki, Muhamad. Hasiyah Alawiyah Showi Ala Tafsir Jalalain.
Sholeh. Dahlan. DKK. 2009. Azbabul Nuzul. Bandung: Cv Penerbit Diponegoro

Hakikat ilmu dalam al - qur'an( kelompok 1 )

QIRO`ATUL KUTUB TAFSIR TARBAWI

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Qiroatul Kutub Tafsir Tarbawi yang diampu oleh Darul Muntaha S.Sos.I, M.Pd


OLEH:
UMMI NUR ROHMATUN NISA
IRVAI
MALIHATUL MUNGAWANAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS SAINS AL-QUR`AN JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2016

BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Al-Qur`an adalah mukjizat islam yyang abadi dimana semakin maju penetahuan, semakin tampak kemukjizatannya. Allah Swt menurunkannya kepada Nabi Muhammad Saw demi membebaskan manusia dari kegelapan hidup menuju cahaya ilahi, dan membimbing mereka kejalan yang lurus. Rasulullah menyampaikannya pada sahabatnya sebagai pendudnduk asli arab yang sudah tentu dapat memahami tabiat mereka. Jika terdapat sesuatu yang belum jelas bagi mereka tentang ayat-ayat yang mereka terima, mereka langsung menanyakan kepada Rasulullah. Diantara kemurahan Allah terhadap manusia ialah Dia tidak saja menganugrahkan fitrah yang suci yang dapat membimbingkan kepada kebaikan bahkan juga dari masa ke masa mengutus seorang Rasul yang membawa kitab sebagai pedoman hidup dari Allah, mengajak manusia agar beribadah kepadaNya semata. Menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah datangnya para Rasul.

Rumusan Masalah
Apa Hakikat Ilmu dalam Al-Quran?
Bagaimana penjelasan pada masing-masing Ayat?





BAB II
PEMBAHASAN

HAKIKAT ILMU DALAM AL QURAN
Al Quran adalah kitab yang didalamnya terdapat berbagai macam hukum hukum ataupun keajaiban keajaiban di dunia ini, didalam al quran juga terdapat berbagai macam rahasia sains modern yang menjadi salah satu dari mujizat al quran.
Ilmu didalam al quran memiliki kedudukan yang tinggi dan penting, karena untuk memahami al quran itu sendiri juga dibutuhkan ilmu. Orang yang berilmu didalam al quran menempati kedudukan yang sangat mulia, karena Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu, dan juga diperkuat dalam perkataan Rasulullah, bahwa orang yang berilmu merupakan warisan para nabi.
Ayat ayat al quran yang menjelaskan tentang hakikat ilmu itu sendiri ada banyak, seperti QS Al Mujadalah:11, QS Thaha:114, QS An Naml:15 dan QS al Qashash:14.
PENJELASAN AYAT
Q.S AL MUJADALAH : 11
((((((((((( ((((((((( ((((((((((( ((((( ((((( (((((( ((((((((((( ((( ((((((((((((( ((((((((((((( (((((((( (((( (((((( ( ((((((( ((((( (((((((((( (((((((((((( (((((((( (((( ((((((((( (((((((((( ((((((( ((((((((((( (((((((( (((((((((( ((((((((( ( (((((( ((((( ((((((((((( ((((((( ((((  
11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Penjelasan Ayat
يَٰٓأَيُّهَاٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡ
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.
Telah dikeluarkan oleh Ibnu Hatim dari Muqatil dia berkata adalah Rasulullah SAW pada hari jumat pada suffah yang tempatnya sempit. Beliau menghormati orang orang yang ikut perang badar, baik muhajirin ataupun anshar. Maka datanglah beberapa orang diantar mereka itu. Akan tetapi mereka telah didahului orang dalam tempat duduknya. Lalu merekapun berdiri di depan Rasulullah SAW, kemudian mereka mengucapkan salam kepada Rasulullah. Rasulullah pun menjawab salam mereka, kemudian mereka menyalami orang orang, dan orang orang pun menjawab salam mereka. Mereka kemudian berdiri guna menunggu untuk diberi kelapngan kepada mereka, tetapi mereka tidak diberi kelapangan. Hal itu terasa berat oleh Rasulullah SAW, lalu beliau mengatakan kepada orang orang disekitar beliau berdirilah engkau wahai fulan beliau menyuruh beberapa orang untuk berdiri sesuai dengan jumlah mereka yang datang. Hal itu pun tampak berat bagi mereka, dan ketidakenakan beliau tampak oleh mereka. Orang orang munafik mengecam yang demikian itu dan mengatakan demi Allah, dia tidaklah adil kepada mereka, orang orang itu telah mengambil tempat duduk mereka dan ingin berdekatan dengannya, tetapi dia menyuruh mereka berdiri dan menyuruh duduk orang orang yang datang terlambat, maka turunlah ayat tersebut.
Ringkasnya ayat ini mencakup pemberian kelapangan dalam menyampaikan segala macam kepada kaum muslimin dan dalam menyenangkannya, karena Rasul pernah bersabda bahwa Allah akan selalu menolong hambanya selam hamba itu menolong saudaranya.
وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ
Apabila kamu diminta untuk berdiri dari majelis Rasulullah maka berdirilah kamu, sebab Rasulullah itu terkadang ingin sendirian, guna untuk merencanakan sesuatu yang tidak dapat ditunaikan atau disempurnakan penunaiannya kecuali dalam keadaan sendiri.
Mereka telah menjadika hukum ini sebagai hal yang umum, sehingga ketika mereka mengatakan, apabila pemilik majelis mengatakan kepada siapa yang ada didalam majelisnya berdirilah kamu maka sebaiknya kata kata itu diikuti.
Tidak selayaknya orang yang baru datang menyuruh berdiri kepada seseorang, lalu dia duduk ditempat duduknya, akan tetapi yang berhak menyuruh untuk berdiri adalah si pemilik dari majelis tersebut.
يَرۡفَعِ ٱللَّهُٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ   
Allah meninggikan orang orang mukmin dengan mengikuti perintah perintahNya dan perintah perintah Rasul, khususnya orang orang yang berilmu diantara mereka derajat derajat yang banyak dalam hal pahala dan tingkat tingkat keridhoan.
Ringkasnya, apabila salah seorang diantara kamu memberikan kelapangan kepada saudaranya ketika saudaranya itu datang, atau ketika dia disuruh keluar kemudian ia keluar, maka janganlah dia menyangka bahwa hal itu akan mengurangi haknya, karena hal itu merupakan peningkatan dan penambahan bagi kedekatan disisi Tuhannya, Allah tidak akan menyia nyiakan yang demikian itu.
وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ
Allah mengetahui segala perbuatanmu. Tidak ada yang samar bagiNya, barabg siapa mengerjakan kebaikan maka akan dibalas kebaikan dan juga sebaliknya
Penafsiran kata sulit
تَفَسَّحُواْ : lapangkanlah, dan hendaklah sebagaimana kamu melapangkan kepada sebagian yang lain. Ini berasal dari kata mereka isfah ‘aini yang artinya menjauhlah dariku.
يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ : Allah melapangkan rahmat dan rezekiNya untukmu
ٱنشُزُواْ : bangkitlah untuk memberi kelapangan kepada orang orang yang datang
َفٱنشُزُو: bangkitlah kamu dan jangan berlambat lambat.
يَرۡفَعِ ٱللَّهُٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ : Allah meninggikan kedudukan mereka pada hari kiamat
وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ : dan Allah meninggikan orang orang yang berilmu diantara mereka khususnya derajat derajat dalam kemuliaan dan ketinggian kedudukan.

QS. THAHA:114
(((((((((( (((( (((((((((( (((((((( ( (((( (((((((( ((((((((((((((( ((( (((((( ((( (((((((( (((((((( ((((((((( ( ((((( ((((( ((((((( ((((((( (((((
114. Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu[946], dan Katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan."
Penjelasan Ayat
فَتَعَٰلَىٱللَّهُٱلۡمَلِكُٱلۡحَقۗ  
Maka maha tinggi Allah raja yang sebenar benarnya dalam perkara yang menyangkut janji, ancaman, keberadaan para Rasul, surga, neraka. Segala perkara itu merupakan kebenaran dari sisi Allah. Maka merupakan bentuk keadilan Allah jika Dia tidak menyiksa seorang hamba yang belum diberi peringatan, didatangkan rasul, dan diberi dalih, supaya tidak ada alasan bagi seorangpun untuk berdalih, dan supaya tidak ada kesamaran.
وَلَا تَعۡجَلۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ مِن قَبۡلِ أَن يُقۡضَىٰٓ إِلَيۡكَ وَحۡيُهُۥ
dan janganlah kamu tergesa gesa membaca al quran sebelum disempurnakan mewahyukan kepadamu. Hal tersebut mirip dengan firman Allah yang artinya “janganlah kamu menggerakkan lidahmu untuk membaca Al Quran karena hendak cepat cepat menguasainya, sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya dan membacanya. Apabila kami telah selesai membacanya, maka ikutilah bacaannya itu, kemudian sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya (al Qiyamah :16-19). Sedangkan didalam ayat ini Allah melarang membaca Al quran dengan tergesa gesa sebelum disempurnakan mewahyukannya, akan tetapi simaklah. Ketika malaikat jibril telah selesai membacanya, barulah kamu membacanya.
وَقُل رَّبِّ زِدۡنِي عِلۡمٗا١١
Dan katakanlah, ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.
Setelah disempurnakannya pewahyuan Al Quran, kemudian setelah membaca Al Quran, maka hendaklah berdoa kepada Allah supaya Allah menambahkan atas diri kita ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat.
Maka, maha tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya yang tunduk kepadNya seluruh wajah, yang merugi dihadapanaNya para penzalim, dan yang merasa aman dibawah lindunganNya orang-orang mukmin yang shaleh. Dialah yang menurunkan Al-Quran ini dari sisiNya yang tinggi, karenanya janganlah lisanmu tergesa-gesa mengucapkannya.
Yang harus kamu lakukan adalah berdoa kepada Tuhanmu agar Dia menambahkan ilmu kepadamu, dan engkau tenang dengan apa yang diberikan Allah kepadamu. Kamu jangnan khawatir Al-Qur’an itu pergi. Ilmu tiada lain adalah yang diajarkan Allah kepadanya. Yang bermanfaat pasti tetap dan tidak akan hilang. Dia tidak akan berubah dan tidak akan gosong.

Penafsiran kata sulit
ٱلۡمَلِكُٱلۡحَقُّ : raja yang sebenar benarnya, bahwa hanya Allah lah raja diatas semua raja.
وَلَا تَعۡجَلۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ : dan janganlah diantara kalian tergesa gesa dalam membaca atau memahami kitab Al Quran.
قَبۡلِ أَن يُقۡضَىٰٓ : sebelum al quran itu sempurna dalam pewahyuannya

QS. AN-NAML: 15
(((((((( (((((((((( (((((((( ((((((((((((( ((((((( ( ((((((( (((((((((( (( ((((((( ((((((((( (((((( ((((((( ((((( ((((((((( ((((((((((((((( ((((
15. dan Sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang melebihkan Kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman".

Penjelasan ayat
Dengan dilihat dengan ayat 15 beliau diberi ilmu-ilmu yang perlu didalam memimpin rakyat, memimpin prajurit-prajurit yang tangkat dimedan perang nabi dan raja Dawud ahli membuat baju besi, dan pandai memainkan alat musik dengan suara merdu yang nyanyiannya penuh dengan pujian-pujian kepada ilahi. Demikian juga Sulaiman terkenal dengan berbagai ilmu dan Sulaiman memiliki kelebihan yang melebihi ayahnya. Dan raja nebi branak itu mensyukuri kepada Tuhan atas nikmat yang dianugrahkan Allah kepada mereka diantara hamba-hamba Allah yang beriman.
Inilah isyarat permulaan yang ada dalam surat ini dan permakluman pengantarnya. Ia merupakan penetapan informasi tentang nikmat paling nyata yang yang dianugerahkan kepada Dawud dan Sulaiman, yaitu nikmat ilmu. Sedangkan pada Dawud sendiri perincian nikmat ilmu yang dianugerahkan kepadanya terdapat dalam surah-surah lain. Diantaranya pembelajaran terhadap secara tartil (bacaan perlahan) tentang syair-syair Zabur. Suaranya diikuti oleh seluruh alam yang ada disekitarnya. Gunung-gunung dan burung-burung ikut bersenandung bersama beliau, karena suaranya yang indah  senandungnya yang hangat, tenggelamnya beliau dalam munajat kepada Allah, dan bersih dari halangan dan rintangan yang memisahkan antara beliau dan seluruh alam semseta ini. Diantara ilmu juga termasuk diajarkan membuat baju besi, alat-alat perang, dan pelunakkan besi-besi sehingga dibentuk apapun yang beliau kehendaki. Selain itu ada pengajaran-pengajaran tentang ilmu peradilan, dimana Nabi Sulaiman ikut serta didalamnya.
Dalam surah ini terdapat perincian tentang ilmu yang diajarkan Allah kepada Nabi Sulaiman yaitu, pemahaman bahasa burung dan lain-lain, disamping tambahan yang telah disebutkan dalam surah-surah lainnya seperti peradilan, serta pengarahan angin  baginya dengan perintah dan ijin Allah.
Surah ini dimulai dengan isyarat.
Sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman.
Sebelum ayat itu berakhir telah ada ungkapan tentang kesyukuran Dawud dan Sulaiman atas nikmat ini. Mereka mempermaklumkan kepada manusia tentang nilai dan kedudukan yang agung dari nikmat itu.
"Segala puji bagi Allah yang melebihkan Kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman." (An-naml:15)
Maka, tampaklah betapa bernilainya ilmi itu dan betapa agung anugerah Allah terhadap hamba-hambaNya. Allah telah melebihkan meereka atas sebagian hamba-hamba Allah yang beriman. Oleh karena itu, selayaknya setiap orang yang memiliki ilmu mengetahui dan menyadari dari mana sumber ilmu itu, agar dia menggunakan ilmu itu dalam perkara-perkaranyang diridhoi oleh Allah yang menganugerahkan ilmu itu kepadanya.
Ilmu yang menjauhkan hati pemiliknya dari tuhanNya adalah ilmu yang merusak, melenceng dari sumber dan tujuannya, serta tidak membuahkan kebahagiaan bagi pemiliknya dan juga tidak  bagi manusia lainnya. Bahkan, ia mengakibatkan Kehinaan, ketakutan, kegelisahan, dan kehancuran. Karena, ia telah terputus dari sumbernya, melenceng dari tujuannya, dan telah sesat jalannya dari Allah.
Penafsiran kata sulit
وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا دَاوُۥدَ وَسُلَيۡمَٰنَ:
dan sesungguhnya kami telah memberikan kepada Daud dan Sulaiman
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي فَضَّلَنَار
segala puji bagi Allah yang telah melebijkan kami dengan dan ditunjukan jin, manusia dan setan-setan.

QS. Al-Qashas:14
((((((( (((((( ((((((((( (((((((((((( (((((((((((( ((((((( ((((((((( ( ((((((((((( ((((((( ((((((((((((((( ((((  
14. dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan ke- padanya Hikmah (kenabian) dan pengetahuan. dan Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Penjelasan Ayat
Dalam surat al Qashash menyatakan bahwa janji Allah benar. Seperti Allah menjnjikan kepada ibu Musa a.s bahwa Dia akan mengmbalikan anaknya dan akan menjadikannya salah satu seorang rasul. Ayat diayat diatas menegaskan bahwa dan setelah dia mencapai kemantapan umurnya dan sempurna jasmani dan rohaninya, kami anugrahkan hikmah yakni kenabian atau kearifan, atau amal ilmiyah dan pengetahuan, yakni ilmu amaliyah. Dan demikian kami membalas al- muhsinin, yakni orang-orang yang selalu berbuat baik.
Cukup umur bermakna sempurnanya kekuatan tubuhnya. Dan, sempurna akalnya bermakana kematangan anggota tubuh dan akalnya hal itu biasanya terjadi pada usia tiga puluh tahun. Apakah musa masih berada di istana Firaun, sebagai anak asuh dan anak adopsi firaun  dan istrinya hingga ia mencapai usia ini? Ataukah Musa berpisah dengan keduanya dan meninggalkan istana, karena hatinya tidak tenang hidup di kondisi seperti itu, yang tidak dapat dinikmati oleh jiwa orang-orang yang terpilih  oleh Allah seprti Musa?
Apalagi setelah ibunya memberitahukannya tentang siapa jati dirinya, siapakah kaumnya, dan apa agamanya. Sementara ia menyaksikan kaumnya ditimpa pelbagai penganiayaan, kedzaliman, kekejiana, dan penghinaan. Ia juga melihat bentuk kerusakan  yang paling buruk daan menyimpang ditengah kerajaan Firaun itu. Kita tidak memiliki dalil tentang hal itu. Namun konteks kejadian-kejadian setelah itu memberikan kesan, seperti apa yang kit abaca nanti. Dan, komentar atas anugerah hikmah dan ilmu yang diberikan Allah kepada Musa, sebagai berikut,
“Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Qhasas: 14).
Penafsiran kata sulit
وَلَمَّابَلَغَأَشُدَّهُ : dan setelah musa cukup umur
وَٱسۡتَوَىٰٓ: dan sempurna  aakalnya
ءَاتَيۡنَٰهُحُكۡمٗا: kami berikan kepadanya hikmat
وَعِلۡمٗاۚ: dan ilmu
وَكَذَٰلِكَ: dan demikianlah
نَجۡزِيٱلۡمُحۡسِنِينَ: kami memberibalasankepada orang-orang yang berbuatbaik

BAB III
KESIMPULAN

QS.Al-Mujadalah  mencakup pemberian kelapangan dalam menyampaikan segala macam kepada kaum muslimin dan dalam menyenangkannya, karena Rasul pernah bersabda bahwa Allah akan selalu menolong hambanya selam hamba itu menolong saudaranya.      
QS.Thaha:114 sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya dan membacanya. Apabila kami telah selesai membacanya, maka ikutilah bacaannya itu, kemudian sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya
QS.An-Naml 15  beliau diberi ilmu-ilmu yang perlu didalam memimpin rakyat, memimpin prajurit-prajurit yang tangkat dimedan perang nabi dan raja.
QS al Qashash menyatakan bahwa janji Allah benar. Seperti Allah menjnjikan kepada ibu Musa a.s bahwa Dia akan mengmbalikan anaknya dan akan menjadikannya salah satu seorang rasul














DAFTAR PUSTAKA

Sayyid Qutb, Tafsir Fi Zhilahil Quran, Jakarta: Gema Insani, 2004.
M. Quraish Shihab,  Tafsir Al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati. 2002.
Salim Bahreisyi.H, Said Bahreisyi.H, Tafsir Ibnu Kasir, Surabaya:pt.bina ilmu. 2004. 
Ahmad Musthofa Al-Maraghi, Terjemahan Tafsir Al-Maraghi, Semarang: Thoha Putra, 1971.